Tampilkan postingan dengan label Riwayat Sufistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riwayat Sufistik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2011

lanjutan: Yahudi Bertanya


Hal. 2
“Adapun lapisan bumi yang paling lebar berada di dalam hati orang-orang yang senang bersodakoh,” jawab Sayyidina ‘Ali. Bumi ibarat kekayaan. Dalam hati orang-orang yang senang bersodakoh tertanam bahwa rizki yang dimilikinya, sebagian milik orang-orang yang membutuhkannya. Dalam Islam kehidupan di bumi bukan tujuan utama. Bumi hanya tempat untuk memperoleh ridho Alloh, sebagai kendaraan menuju akhirat kelak. Maka perhitungan memberi dalam Islam, bukan sseperti matematika; 10 – 1 = 9. Tetapi setiap rizki yang disodakohkan atau diberikan kepada orang yang membutuhkan akan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan baik di bumi maupun di akhirat. Ini adalah janji Alloh dan Rosulnya. Bayangkan jika setiap hari orang itu bersodakoh, maka kekayaan bumi ini tidak akan mampu menandingi kekayaannya di akhirat kelak. Dan dia tidak akan merasa kekurangan di bumi.

“Laut yang paling luas adalah hati orang-orang yang qona’ah,” jawab Sayyidina ‘Ali.  Hati yang senantiasa menerima apa adanya, serta  mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Di mana pun mereka berada, hatinya akan selalu tenang karena selalu merasa cukup dan tidak berlebihan. Mereka pun akan selalu mampu menyesuaikan diri dalam situasi dan kondisi apa pun karena kemampuan mereka dalam bersyukur.

“Sedangkan neraka yang paling panas adalah hati orang-orang yang serakah.” Kata Sayyidina ‘Ali. Orang-orang yang serakah selalu merasa kurang, dan kufur nikmat. Apabila mereka memiliki kewenangan untuk membagi sesuatu, mereka pasti akan berbuat tidak adil dan sering berbuat dholim. Mereka ingin mendapat bagian lebih banyak tanpa memikirkan bagian untuk orang lain. Apabila berkuasa atau mempunyai jabatan mereka cenderung  korup. Bahkan mereka  merasa mempunyai hak atas milik  anak buahnya. Mereka tak segan dan tahu malu untuk memotong, meminta bagian dari gaji anak buahnya, walauipun mereka sudah mendapat gaji yang lebih besar. Orang-orang serakah hatinya selalu panas dan iri dengki apabila ada temannya yang memperoleh rizki lebih banyak, dan kedudukan lebih tinggi dari mereka, meskipun mereka mengetahui, bahwa rizki dan kedudukan yang diperoleh temannya itu halal dan prosedural.

“Angin yang paling kencang adalah doanya orang-orang yang didholimi,”  jawab Sayyidina ‘Ali. Apabila orang-orang yang didholimi ini sampai pada tingkat pengadukan, serta menyerahkan semua urusannya kepada Allah SWT, karena sudah tidak kuat atau tidak mampu menahan kedholiman-kedholiman Si Pendholim, baik kedholiman berupa penganiayaan fisik, perampasan hak milik, maupun perampasan kesempatan, maka pada saat itu juga doanya akan segera dikabulkan oleh Allah.

“Batu yang paling keras adalah hati orang-orang yang sering melakukan maksiat,” jawab Sayyidina ‘Ali. Yang bisa melunakkan kekerasan hati orang-orang yang berbuat maksiat hanya satu, yaitu hidayah dari Allah. Apabila yang menasihati itu adalah orang ‘alim, maka nasihat itu hanya akan masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Apabila yang menasihati orang-orang yang berada setingkat atau dianggap berada di bawahnya, tidak akan masuk telinga kiri maupun telinga kanan. Bahkan meskipun mereka berilmu. Ilmu mereka sama tingginya dengan ilmu yang dimiliki para kiai, namun sering melakukan maksiat, maka hatinya akan lebih keras lagi untuk menerima nasihat. Tidak heran jika banyak orang-orang pintar,  fasih melafalkan Al Qur’an dan Hadist Rosul, tetapi kelakuannya bejat. Itu karena hatinya sudah mengeras diselimuti kemaksiatan.

“Yang tidak bisa dilihat manusia adalah ruh,”jawab Sayyidina ‘Ali. Ruh adalah ghaib, hanya bisa dirasakan dengan keimanan. Yang perlu kita renungkan bagaimana tubuh yang berupa segumpal daging, disanggah  pondasi tulang belulang, dilengkapi jantung pemicu darah yang mengalir di setiap urat, dan paru-paru mengatur udara yang dihirup dari luar untuk kemudian disebarkan ke seluruh penjuru tubuh, bisa berdiri, berjalan, lari, bahkan memikul beban dan sebagainya. Padahal tetangga kira baru kemarin sore, tergeletak di pembaringan tak bisa mandi sendiri, tak bisa mengubur dirinya sendiri. Bangkai! Apabila tidak dikuburkan baunya akan kemana-mana. Itulah ruh yang tak pernah mati. Ruh yang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan hidupnya selama di dunia. Dan hanya iman yang dapat merasakan keberadaannya.

“Yang tidak bisa dilihat Allah adalah orang-orang kafir, karena Allah tidak mau melihatnya,” jawab Sayyidina Ali. Apapun kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir di dunia, tidak ada nilai ibadahnya.

Kamis, 03 Februari 2011

Yahudi Bertanya - Sayyidina 'Ali Menjawab


Hal.  1

Beberapa orang Yahudi  datang ke Madinah hendak menemui Rosululloh, Muhammad S.A.W. Mereka mau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mereka yakini Rosululloh tidak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bahkan mereka bersumpah akan masuk Islam jika Rosululloh bisa menjawabnya. Tapi jika tidak, maka kerosulan dan kenabian Rosululloh Muhammad S.A.W  perlu dipertanyakan, kata mereka.

Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib, sepupu sekaligus menantu Rosululloh.  “Wahai orang-orang Yahudi, mau kemana kalian? Mengapa wajahmu begitu nampak gembira?” tanya Sayyidina ‘Ali.
“Mau bertemu Rosulmu, ya ‘Ali,” jawab mereka.
“Ada perlu apa, sehingga kalian begitu bersemangat?” tanya lagi Sayyidina ‘Ali
Maka mereka pun menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke Madinah untuk menemui Rosululloh. Lalu dengan sombong mereka berkata, “ Kami yakin Rosulmu tidak akan mampu menjawab pertanyaan-petanyaan kami.”

Sayyidina agak tersinggung mendengar  perkataan orang Yahudi itu, sehingga dia mengatakan, “Aku diberi gelar Babul’ilmu, pintunya ilmu. Aku mengusai 60 cabang ilmu. Untuk satu cabang ilmu jika diangkut, membutuhkan seribu kendaraan. Sebelum kalian bertemu Rosululloh, tanyakan pertanyaan-pertanyaan itu kepadaku.Dengan Bismillaahirrohmaanirrohiim wa  laa haula wa laa quwwata illaa billah, Insya Allah aku bisa menjawabnya.”

Orang-orang Yahudi saling pandang, ragu. Tetapi karena ucapan Sayyidina ‘Ali begitu meyakinkan, satu per satu dari orang Yahudi itu mengajukan pertanyaan,  termasuk menanyakan tentang hakikat dan makna suara hewan, suara angin, dan suara air. Namun penulis hanya akan menguraikan 8 pertanyaan sebagai beikut :

“Langit ke berapa yang paling besar, wahai ‘Ali?”
“Lapisan bumi ke berapa yang paling lebar?”
“Laut apa yang paling luas?”
“Neraka apa yang paling panas?”
“Angin apa yang paling kencang?”
“Batu apa yang paling keras?”
“Mahluk apa yang hanya bisa dilihat Allah, sedangkan manusia tidak bisa melihatnya?”
“Atau mahluk apa yang bisa dilihat manusia, sedang Allah tidak melihatnya?”
 “Oh, jadi itu pertanyaan-pertanyaan yang hendak kalian sampaikan kepada Rosululloh,” kata Sayyidina ‘Ali, enteng. Sambil tersenyum Sayyidina ‘Ali pun menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

“Langit yang paling besar itu berada di dalam hati orang-orang yang berani melawan kekuasaan Allah,”  jawab Sayyidina ‘Ali. Betapa tidak! Langit yang begitu lebar di atas kepala kita, tak ada satu pun alat atau benda yang menyanggahnya, kalau bukan karena kekuasaanNya. Maka bila ada orang yang berani melawan Allah, sungguh teramat angkuh dan sombong orang itu. Maka tak ada pilihan bagi manusia selain patuh untuk menjalankan semua perintahNya, serta senantiasa berharap agar semua perbuatan atau amal-amal kita memperoleh ridho dariNya.

Jumat, 14 Januari 2011

Nabi Sulaiman a.s. pun Takjub

Ketika Nabi Sulaiman a.s. berjalan-jalan di atas langit, ia merasa heran saat melihat ke bawah. Ia melihat laut yang  begitu tenang, bercahaya dan tak berombak. Padahal di sekeliling laut tersebut ombak begitu besarnya. Maka ia pun menyuruh angin yang membawanya terbang untuk berhenti, "He, Angin tunggu sebentar, saya melihat ada keanehan di laut itu." Angin pun berhenti, lalu Nabi Sulaiman a.s. memanggil beberapa jin. "He, Jin tolong periksa ada apa di dalam laut sana, kok bisa tetang dan bercahaya dan tidak terkena ombak," perintah Nabi Sualaiman a.s. Beberapa jin turun ke dalam laut, dan mereka menemukan sebuah kubah terbuat dari zamrut putih. Mereka mencoba mencari pintu untuk masuk ke kubah itu, tapi tak ada pintu. Akhirnya mereka membanya ke atas permukaan laut. Dan anehnya kubah tersebut bisa mengambang dipermukaan laut.
 
Demi melihat kubah itu terapung di permukaan laut, Ketakjuban Nabi Sulaiman semakin bertambah, ia pun minta turun kepada angin untuk melihatnya lebih dekat. Sebagaimana laporan para jin, kubah itu tidak memiliki pintu, Nabi Sulaiman a.s. semakin penasaran ingin tahu ada apa di dalam kubah itu. Lalu ia pun berdoa kepada Allah agar bisa masuk ke dalam kubah itu, dan Allah pun mengabulkannya. Ternyata di dalam kubah itu ada seorang pemuda yang sedang bersujud dengan khusyunya. Namun karena ada seseorang yang datang, pemuda itu pun berdiri dengan wajah yang cerah.
"Kalau boleh tanya, amalan apa yang membuatmu bisa berada di dalam kubah ini?" tanya Nabi Sulaiman a.s.
"Karena saya sangat hormat dan bakti kepada orang tua saya," jawab pemuda. "Sebelum saya berada di sini, saya merawat ibu saya yang sudah lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau iaingin ke kamar mandi, atau kemana saja, saya gendong. Saya suapi ia ketika lapar. Pokoknya semua permintaannya saya laksanakan dengan sepenuh hati. Dan setiap kali saya melakukan sesuatu untuknya, ia selalu berdoa, ya Allah terimalah amal bakti anak saya, jauhkan ia dari langit dan bumi. Setelah ia meninggal, saya jalan-jalan di pantai. Tiba-tiba ombak menggulung saya, dan atas kebesaran Allah, saya ditempatkan di sini.
"Lalu bagaimana cara kamu makan di tempat ini?" tanya lagi Nabi Sulaiman.
"Allah telah mencukupi saya. Jika saya lapar maka akan muncul batu. Dari batu itu muncul pohon berbuah lebat untuk dimakan, dan daun-daunnya bisa berubah madu, susu atau minuman yang saya inginka," jawab Pemuda itu.
"Kalau kamu ingin buat hajat?" lanjut Nabi Sulaiman.
"Allah telah mengatur semua keperluank saya, termasuk saya mengetahui siang dan malam. Bila hari siang, maka kubah ini akan menyala terang benderang, dn apabila malam, kubah ini berupa gelap, namun nikmat."
"Subhanalloh, inilah kembangnya surga," puji Nabi Sulaiman.
"Maaf, ya Nabi. Saya harus beribadah lagi. Bersujud kepada yang memberi kenikmatan kepada saya," kata pemuda itu. Secara tak terasa oleh Nabi Sulaiman, ternyata ia sudah berada di luar Kubah. Dan kubah itu pun kembali ke tempatnya.

Oh, alangkah berjasanya orng tua kepada kita. Sungguh malu apabila kita berani melawannya. Doa merekalah yang membuat kita sampai ke sorga. Maka hormatilah mereka. Doakanlah mereka, agar mereka bahagia menatap kita dari sorga.